Love
Perempuan dalam Cinta dan Melepaskan: Studi Psikologi Mengungkap Realitas…
WomenWithBrain.com
28 Januari 2026 | 19.02
Ulya H
Perempuan kerap diasosiasikan dengan cinta yang penuh empati, kesetiaan, dan kedalaman emosi. Namun, di balik narasi romantis tersebut, berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam mencintai dan melepaskan jauh lebih kompleks dan dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, serta psikologis. Cinta bukan hanya perasaan, melainkan proses pembentukan identitas, pengelolaan emosi, hingga keberanian untuk melepaskan demi kesehatan mental.
Sejumlah penelitian akademik menegaskan bahwa bagaimana perempuan mencintai akan memengaruhi bagaimana mereka menghadapi kehilangan, perpisahan, dan pemulihan diri.
Gaya Cinta Perempuan: Lebih Relasional dan Berorientasi Komitmen

Penelitian dalam INSIGHT: Jurnal Penelitian Psikologi menemukan bahwa perempuan cenderung memiliki gaya cinta yang menekankan kedekatan emosional, komitmen, dan kualitas hubungan jangka panjang. Cinta dipandang bukan sekadar ketertarikan fisik, tetapi sebagai ruang tumbuh bersama, rasa aman, serta kesetiaan.
Pendekatan ini membuat perempuan lebih terlibat secara emosional dalam hubungan. Ketika hubungan berjalan sehat, keterikatan ini memperkuat rasa bahagia dan stabilitas psikologis. Namun ketika hubungan berakhir, keterikatan yang kuat juga dapat meningkatkan intensitas rasa kehilangan.
Mengapa Putus Cinta Terasa Lebih Berat bagi Sebagian Perempuan

Studi dalam Journal of Social and Humaniora menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami putus cinta berulang cenderung mengalami penurunan kesejahteraan psikologis, munculnya perasaan tidak aman, dan kecenderungan menarik diri dari hubungan baru dalam jangka waktu tertentu.
Faktor yang memperberat proses ini antara lain:
-
Investasi emosi yang tinggi dalam hubungan.
-
Harapan jangka panjang terhadap pasangan.
-
Keterikatan identitas diri dengan peran sebagai pasangan.
Secara psikologis, perpisahan bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan masa depan yang telah dibayangkan bersama.
Melepaskan dan Regulasi Emosi

Kemampuan melepaskan berkaitan erat dengan emotion regulation atau kemampuan mengelola emosi. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung menggunakan pendekatan reflektif, seperti menulis, berbagi cerita dengan orang terdekat, dan mencari makna atas pengalaman emosional.
Pendekatan ini membantu proses pemulihan, tetapi juga membuat perempuan lebih lama berada dalam fase kontemplasi emosional. Dalam konteks sehat, refleksi ini memperkuat pertumbuhan pribadi. Namun jika berlebihan, dapat memicu rumination atau pengulangan pikiran negatif.
Keluar dari Hubungan Tidak Sehat dan Proses Rekonstruksi Diri

Dalam kasus hubungan beracun atau penuh kekerasan emosional, proses melepaskan menjadi lebih kompleks. Studi fenomenologis menunjukkan bahwa perempuan yang keluar dari hubungan tidak sehat melewati beberapa fase: tekanan emosional, kebingungan identitas, refleksi diri, hingga akhirnya membangun kembali kepercayaan diri dan batasan personal.
Proses ini sering kali melahirkan peningkatan resiliensi, pemahaman diri yang lebih matang, serta kemampuan memilih hubungan yang lebih sehat di masa depan.
Peran Memaafkan dalam Pemulihan Emosional

Sejumlah penelitian psikologi menemukan bahwa kemampuan memaafkan berhubungan positif dengan kesejahteraan psikologis setelah putus cinta. Memaafkan bukan berarti membenarkan perilaku menyakitkan, tetapi membebaskan diri dari beban emosional yang berkepanjangan.
Perempuan yang mampu melepaskan rasa marah dan penyesalan cenderung lebih cepat pulih, memiliki pandangan hidup yang lebih optimis, serta lebih siap membuka diri pada hubungan yang lebih sehat.
Cinta dan Melepaskan sebagai Proses Pertumbuhan
Mencintai dan melepaskan bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya merupakan bagian dari proses perkembangan emosional perempuan. Cinta membentuk kedewasaan emosional, sementara melepaskan melatih keberanian untuk memilih diri sendiri, membangun batasan, dan memperkuat harga diri.
Dalam perspektif psikologi modern, kemampuan melepaskan secara sehat merupakan indikator kematangan emosional — bukan kelemahan. Perempuan yang mampu berdamai dengan kehilangan memiliki peluang lebih besar untuk membangun hubungan yang lebih sadar, seimbang, dan bermakna di masa depan.
Referensi Ilmiah
-
Lubis et al. (INSIGHT: Jurnal Penelitian Psikologi). Gaya Cinta Laki-laki dan Perempuan.
-
Garcia Fernández, N. (Journal of Popular Romance Studies). Love and Its Contradictions: Feminist Women’s Resistance Strategies.
-
Langeslag, S. (Behavioral Sciences). Cognitive Regulation of Romantic Love.
-
Studies on breakup distress and emotional recovery (PMC – Psychology & Behavioral Sciences).
-
Penelitian forgiveness dan psychological well-being pasca putus cinta (Jurnal Psikologi Indonesia).